October 10th, 2009 by a121-za

entahlah… knp hari terasa lebih panjang dr biasa

ketika hidup harus berada dalam satu pilihan kata

MELUPAKAN

entahlah… mungkin karena ketidak relaan

ketidakikhlasan

atau semacamnya

hingga begitu susah melangkah

menjauhi bayang-bayang yg memanjang di belakang

mungkin bila mentari berhenti bersinar

maka bayang-bayang itu akan hilang

dan ENTAHLAH

apa mungkin bila matahari tak bersinar..

bila bayang-bayang hilang

apakah kala itu benakku bisa kosong akan ingatan tentangmu…???

sekali lagi

ENTAHLAH…

Catatan Hati

October 10th, 2009 by a121-za

(Seorang akhwat menuliskan kepadaku ttg perasaannya kpd seseorang…

Ketika itu hati sedang diliputi amarah…)

BEGINILAH DULU AKU MENILAI SIKAPMU…

 

Akhirnya aku tahu kenapa ketika itu kau tak pernah menghubungi murobbi ku bahkan kau bilang nomor murobbi ku telah kau hilangkan, sesuatu yang agak mustahil bagiku. Kuduga kuat alasannya, karena kau memang tidak pernah berniat serius terhadap perkataanmu. Akhirnya aku tahu kenapa dulu kau menghilang dan meninggalkanku dalam ribu tanya yang menyiksaku. Kuduga kuat alasannya, karena kau memang tidak pernah benar-benar menganggapku ada. Akhirnya aku tahu kenapa kau selalu berkata akan mengikhlaskanku untuk orang lain, sedang di hatiku selalu berbisik aneh dan menangis karenanya. Sekarang aku tahu kenapa hatiku tak bisa menerima, karena dia tahu kau sebenarnya tidak pernah benar-benar menginginkanku.

 

Bahkan ketika aku memintamu menjemputku, kau menolak dengan berkata, bahwa aku takkan sanggup hidup sepertimu. Kau tidak berfikir bahwa bagiku materi dunia tidak pernah bernilai apa-apa. Kuanggap sebabnya, karena kau memang tidak pernah ingin menjemputku, bukan karena ketakutanmu bahwa kefakiran dekat dengan kekufuran. Dan ketika aku ingin bertemu denganmu meski dengan mengorbankan waktu, biaya dan harga diriku, kaupun menolaknya dengan berkata, bahwa aku hanya diliputi keinginan, bukan kebutuhan. Sekarang aku tahu alasannya, karena kau memang tidak pernah menginginkanku apalagi membutuhkanku.

 

Sia-sia semua janji yang kau ucapkan. Hampa saja semua harapan yang telah kau tanamkan. Semuanya selaksa debu yang dihembus angin. Lepas ke angkasa dan menghilang. Dan perasaanku kini bagai kapas yang terhempas. Atau bagai ruang tanpa udara, atau bagai padang tanpa hijau, atau seperti tubuh tanpa jiwa…

 

Aku tahu, kata-kata inipun takkan berarti apa-apa bagimu. Bukankah semua janji dan harapan telah dengan begitu mudahnya terucap dari bibirmu? Semua itu juga akan dengan mudah terhapus dari ingatanmu. Allah Maha Besar. Di balik semua ini akan ada hikmah, aku yakin itu. Di balik semua kena’ifan dan kebodohan akhwat seperti ku yang begitu mempercayaimu, aku tahu akan ada hikmah yang sangat besar sedang menantiku dengan bentangan rahmat-Nya yang teramat luas hingga tak terukur.

 

Wahai laki-laki yang asing. Betapa aku menyimpan derita cinta begitu dalam kepada wujudmu sekian lama, bahkan meski wujud itu tak pernah sekalipun terpikirkan olehku seperti apa nyatanya, tapi aku tetap mencintaimu dengan hati putih. Di situlah mungkin letak kesalahan terbesarku. Dan sekarang aku telah menjadi ragu dengan hati sendiri. Apakah memang hati sudah tak bisa lagi dipercayai? Apakah memang sepatutnya hati itu kuabaikan saja?

 

Selama penantianku, yang kupertahankan adalahkhusnudzon-ku kepadamu. Seberat apapun untuk percaya, aku tetap berusaha menganggapmu baik dan mempercayaimu. Aku selalu berfikir, bila memang kau berbohong dan berniat mempermainkanku, maka aku masih memiliki Allah yang akan menunjukkan jalan kebenaran dan Maha Benar hisab-Nya. Semustahil apapun kenyataan yang kamu paparkan, aku selalu berusaha berfikir positif. Berfikiran negatif hanya akan membuatku semakin gila karena takut kehilanganmu.

 

Sahabatku berkata, itu bukan bentuk ke-khusnudzon-an, tapi cinta buta. Entahlah, sekarang aku rancu sendiri dengan diriku. Benarkah selama ini aku khusnudzon, ataukah aku telah cinta buta kepadamu?

 

Tidak ada lagi janji yang ingin kusimpan, tidak ada harapan lagi yang ingin kugantungkan. Aku tidak punya sisa keberanian, dan kekuatanku pun sudah surut untuk mengharapkanmu. Aku akan melepaskanmu dengan seluruh kerelaan yang tersisa. Pergilah, jangan kembali. Hatiku biarlah aku dan Allah saja yang tahu.

 

Terima kasih karena selama lebih TIGA tahun ini kau telah menjadi inspirasi hidupku. Terima kasih karena selama kenal kamu, aku telah banyak sekali berubah menjadi lebih baik. Terima kasih karena tanpa kau sadari kau telah menjadi udztaz yang mendidikku dengan ikhlas. Terima kasih karena telah hadir dan memberikan warna dalam hidupku, menjadi tangis dan tawaku, rindu dan benciku.

 

Terima kasih karena telah mengisi do’a sujudku, tahajudku, tilawahku, dhuhaku, tidurku, jagaku. Insya Allah kau akan tetap menjadi penghuni hatiku karena aku mencintaimu atas nama Allah.

 

Terima kasih karena kau tidak pernah sekalipun menyakitiku dengan kata-kata. Hatiku yang luka bukan karena kata-katamu, tapi karena kebodohanku sendiri. Terima kasih karena telah memberiku kesempatan berkenalan dengan keluargamu yang menyenangkan dan selalu melahirkan rindu yang hangat di hatiku. Aku bahkan mencintai adikmu seperti saudariku sendiri. Insya Allah aku akan menjaga silaturahim dengan mereka. Insya Allah hatiku luas untuk mereka tempati.

 

SIANG

October 10th, 2009 by a121-za

selamat siang semua nyawa…
selamat siang setiap raga..

sejenak henti menitik..
sejenak henti mendayu

betapa kerap siang seperti titik hitam
menindih bola mata
seperti saat ini…

ketika menjadi buta
sedang mata nyalang menatapimu

enyah semua sepi
siang memuncak menjadi gejolak
cahya menyeruak
ruang kehilangan sekat
tapi mataku masih menatapnya sebagai titik hitam..

selamat siang semua nyawa..
selamat siang setiap raga..

mungkin q yg salah sangka…

bisa jadi

bintang senja › Create New Post — Friendster

January 4th, 2009 by a121-za

Rabb..

July 20th, 2008 by a121-za

Rabb
Maha Suci engkau dari semua prasangkaku
tidak ada yang lebih mengerti aku selain Engkau
tidak dia, tidak si anu, tidak si itu..
bahkan diriku sendiri

Rabb…
memilih untuk bertahan atau mencari jalan hidup yang lain
seakan memilih antara hidup dan mati
melupakan perasaan dan membuka pintuku kembali
seakan menyuruh diri berhenti bernafas….

Rabb…
inilah rasa yang Kau peringatkan kepadaku
inilah nafsu yang Kau wanti-wantikan aku

inilah Cinta
yang kau sebut sebagai jalan kehancuranku

Rabb…
ampunilah aku…

FEBRUARI

July 4th, 2008 by a121-za


#(1)
kau bawa pergi kopermu
di dalamnya adalah semua yang pernah aku miliki
kau curi pada malam itu
di sela air mataku

kau pergi bersama kopermu
di dalamnya ada jiwaku
jiwa terkering yang pernah ada
meski begitu, kau tetap merebutnya dariku . .

kau dan kopermu menghilang
bersama kalian pergi hidupku
hidup yang telah dilalap api cinta
teramat rapuh untuk bertahan tanpamu

aku dan koperku membeku
di dalamnya tak ada satupun milikmu
tidak hatimu, tidak jiwamu
bahkan namapun tak kau tinggalkan . .

‘ketika ku merindumu’

Kau

June 19th, 2008 by a121-za

Kau bagiku adalah bintang yang paling terang, berkelip di angkasa malamku seakan tak pernah lelah memberi keceriaan di dunia. Ketika engkau tampakkan wajah, kau selalu tersenyum sambil kedipkan mata. Kau menggodaku dengan binar yang tak pernah pudar. Selamanya indah. Tidakkah kau pernah bersedih satu kali saja? Oh, bintang..

Tak pernah lupa setiap malam aku berdoa, agar suatu saat aku bisa menggapaimu, menjadi kabut yang ‘kan berarak menujumu. Tak pernah lelah aku bersujud di gelap malam, mengurai air mataku, berharap suatu saat nanti cahayamu menjemputku di sini. Di penantianku.

Kau, bagiku adalah cinta yang paling mesra. Perasaan yang paling dalam, kerinduan yang tak mungkin padam.

Ah.., khayalanku melambung lagi kepadamu malam ini. Sejuta mimpi mengganggu, ketika kau mulai hadir dalam hidupku. Tidakkah engkau tahu, setiap saat aku selalu merindukanmu?

Kau mungkin tak pernah tahu. Kau mungkin tak ‘kan pernah menyangka sedalam apa perasaan yang kupendam. Aku memang tak pernah berkata. Aku memang tak pernah terbuka. Seharusnya aku meminta maaf pada hatiku yang teramat lelah menyimpan rindu, karena kekeluan lidahku tak mampu mengurai semua dalam kata.

Tapi bukankah memang seharusnya begitu? Menyimpan perasaan hanya dalam dada. Menjauhkan diri dari penyakit hati yang mampu merusak iman kita, meski cinta hampir tak mampu lagi dikekang?

Sejujurnya, aku hampir tak kuat lagi menahan rindu. Ingin rasanya aku pergi mencarimu, membawa jutaan harap yang tertanam semakin dalam di dadaku. Mewujudkan mimpi-mimpi kita. Tapi aku takut semua akan prematur, seperti katamu waktu itu.

“Aku tak ingin menemuimu saat ini, dan juga tak ingin kamu datang, karena aku tak ingin kita berjumpa secara prematur. Karena ketika kita berjumpa, aku harap itu terjadi satu kali saja. Aku tak ingin ada perpisahan lagi setelah itu.” Katamu menjawab permintaanku. Kala itu aku memintamu datang untuk menghalalkan perasaan kita. Setelah itu aku berjanji akan mengijinkanmu kembali ke duniamu untuk menyelesaikan studi yang tersisa lebih dua tahun lagi, dan aku akan tinggal di sini menantimu dengan perasaan cinta yang telah dihalalkan-Nya untuk kita.

Tapi kau tak mau.

“Prematur seperti apa..?” tanyaku.

“Yang aku inginkan, ketika kita bertemu, saat itu semua sudah benar-benar siap. Lahir dan batin kita. Aku tidak ingin semua dipaksakan hanya untuk menghalalkan perasaan kita, sedang kita masih tidak memiliki kemampuan mengatasi permasalahan yang pasti akan timbul.” Jawabmu.

Aku sama sekali tidak paham maksudmu. Bukankah sangat sederhana apa yang kuinginkan darimu? Bukankah sangat wajar ketika aku ingin kau datang dan memperkenalkan dirimu kepadaku, kepada keluargaku, karena selama lebih dua tahun sejak perkenalan kita di dunia maya, aku dan kamu tidak pernah sekali pun bertatap muka. Aku dan kamu hanya bertemu lewat suara, lewat pesan-pesan singkat yang bahkan sangat amat jarang, dan lewat ikatan hati kita. Bukankah sangat amat normal jika kedekatan hati selama dua tahun ini kita halalkan atas nama-Nya, dan berpisah sementara karena-Nya? Bukankah hal ini bisa jadi solusi untuk luapkan cinta yang menggenang di dada kita?

Tapi kau tak mau.

“Aku ingin, ketika kita bertemu, aku sudah siap lahir dan batin. Mental dan materi. Ketika itu aku tidak ingin kita berpisah lagi. Kita akan bersama selamanya.” Ungkapmu.

“Tidak mudah membangun sebuah rumah tangga dari dua jiwa yang berbeda. Tidak mudah untuk menyatukan hati dari dua fikiran yang berbeda. Sekarang, sebaiknya kita sama-sama mempersiapkan diri dulu, hingga saat itu tiba. Sabarlah..” Katamu membujukku.

Tapi, kapankah kesiapanmu itu? Sampai kapankah aku harus menunggu lagi? Dulu kau pernah katakan, tidak akan lama setelah kelulusanku dari universitas, kau akan memintaku kepada orang tuaku. Tapi sekarang, setelah kelulusanku terlewat 1,5 tahun lalu pun, kau tidak juga datang menjemputku. Oh, bintang, mengapa begitu lama kau biarkanku menunggumu?

Sesungguhnya aku sadar, siapa aku dan siapa kamu. Kita adalah dua sosok yang sangat sulit disatukan. Banyak halangan yang menanti kita. Kau adalah laki-laki yang selalu bersikap dewasa, hidup sendiri, berjuang untuk dirimu dan orang lain dengan tenaga yang tak seberapa, sembari menuntut ilmu. Dan aku adalah perempuan manja yang terbiasa dalam kenyamanan. Engkau adalah laki-laki yang terbiasa sengsara, bahkan hingga saat ini, sedang aku adalah perempuan manja yang terbiasa berhadapan dengan kemudahan.

Ketakutanmu, jika menghalalkan perasaan kita, adalah ketidak berdayaan ekonomi. Kau takut aku akan sengsara bila bersamamu. Tapi bukankah Allah Maha Kaya, Allah Maha pemberi solusi atas segala kesulitan hidup di dunia ini. Kenapa kita harus takut dengan kekurangan materi? Bukankah Allah menjanjikan akan mencukupkan rezeki bagi insan yang ikhlas menghalalkan cinta atas nama-Nya? Bukankah aku telah meyakinkanmu, bahwa dirimu jauh lebih penting bagiku dari sejuta materi di dunia ini?

Tapi kau tak mau.

“Kefakiran lebih dekat dengan kekufuran. Dan aku tidak mau kefakiran menjerumuskan kita.” Jawabmu mematahkan argumenku.

“Baiklah..” kataku tak mampu berargumen lagi.

Lalu kuterdiam. Mataku menatap langit malam yang megah bertahta bintang. Ada kamu  bercahaya di tengah angkasa itu. Kau bagiku adalah bintang yang terang, dan aku hanyalah rumput di tengah padang. Jarak kita teramat jauh, dibatasi langit yang membentang. Tapi, harapan takkan pernah putus, bahwa suatu hari nanti kita akan mampu menembus jutaan penghalang, dan saling menggenggam tangan.

Apa kamu tahu, kenapa di antara jariku ada ruang? Aku ingin kau tahu, ruang itu tercipta untukmu. Suatu saat nanti kau akan datang mengisi ruang itu, dan menggenggam jemariku.

……………………………………………………………………….
Samuda, 9-12 Februari ‘08
Bintang.. janji itu kusimpan dalam hati..

Harapan di Tangah Malam

May 28th, 2008 by a121-za

Diselimuti embun..
Langkahku meramu udara malam di dalam kalut
Menjelang akhir lelap gulita
Mengharap mentari tak akan pernah kembali

Meniti kesendirian..
Berujar dalam hati, bertahan takkan mungkin selamanya
Bertanya dalam celuk jiwa, sampai kapan batas ketahanan yang mungkin bagiku?

Menukikkan senyum pada tanah malam yang dingin
Hanya sebuah kemungkinan yang tak bernyawa
Mengharap di ujung pekat di depan sana perjalanan terhenti
Kan ku temukan angkasa penuh cahaya

Kaki kembali menyeret langkah
Senyum yang paling mungkin hanya terjadi sesaat
Lalu meresap pada pekat, semakin tidak kasat
Kenyataannya aku masih tertatih sendiri dan berkarat

Semacam ketakutan atau kebimbangan
Hukum mana yang harus ku pegang
Pengembaraan pada rasa yang samar pada ketentuan dariNya
Penghayatan yang bahkan tak punya kekang yang mengikat

Ukh…
Melangkah seperti ini
Bag berpijak pada satu-satunya ranting yang keriput
Membentang di atas jurang terjal tak berdasar
Yang dengan suara yang serak meneriakkan rasa ‘LAPAAAAR….’?

Akh…
Mengambang seperti ini
Bag terapung di tengah samudra tanpa tepi
Tak pernah bisa menggapai cakrawala untuk bergelayut
Tak akan bisa mecengkram awan untuk melindungi diri

Ya Rabb…
Bimbang seperti apa yang tak kasat mata ini
Sepertinya aku berada di tengah angkasa tanpa satu bendapun di sekitarku
Atau di tengah rimba raya tanpa celah cahaya di manapun
Atau di sudut kamar sempit di depan sebuah komputer yang menyala berkedip..?

Aku berada di mana ya Rabb..?

Hening…
Bukan pada hatiku, namun pada malam yang memupuk kebimbangan
Dan hening tak mungkin menjadi obat
Tak sanggup menjadi penghibur

Ya Rabb…
Adalah seonggok aku yang kasat mata ini
Terpenjara di dalam jiwa yang merasa kebiru-biruan karena hina
Mengharap terang yang menyulutkan arah bagi kerdilku
Yang menimpali kegundahanku dengan keyakinan
Yang menimbal keraguanku dengan kekuatan menatap arah dariMU

Ya Rabb…
Berikan aku mimpi yang Engkau benar-benar jadikan mimpi yang pantas
Berikan aku takut yang Engkau benar-benar ijinkan aku untuk takut
Berikan aku harap dan cinta yang Engkau benar-benar ridlo akannya

Ya Rabb..
Bawa langkahku pada terangMu, bukan pada malam yang panjang dan sendiri
Terang meski pekat tanpa lentera
Terang meski melangkah dalam buta
Bawalah aku Ya Rabb…

SENJA KITA

May 21st, 2008 by a121-za

engkau menari-nari
bintik matamu kemuning
melempar kilau pada lengit yg kelam

senja mencari-cari wujud
merapat pada semak dan pepohonan
meniupkan angin berwarna jingga di setiap pucuk yang bernyawa

bawalah pergi mimpi-mimpi hari
simpan dalam peti malam
endapkan hingga jengah

dan biarlah senja kembali mencari-cari wujud
merapat pada semak yang merunduk…

Kesetiaan Yang Tak Masuk Akal (habis)

May 21st, 2008 by a121-za

Pagi

Udara mencuri masuk dari sela jendela, resapkan hangat fajar yang samar di redup warna kulitku. Kemuning semburat ufuk perlahan menguat, mencuri pandang dari balik tirai kusam. Perlahan rinduku menguap bersama embun yang mengangkasa. Ah.., pagi telah mengakhiri mimpi-mimpi, sekali lagi.

Tadi malam adalah malam terakhirku bernyanyi dengan juta mimpi. Senja kemarin adalah senja terakhirku menanti. Pagi ini adalah pagi pertama bagiku melangkah pergi meninggalkan semua rasa setia yang jengah. Begitu yang selalu kukatakan pada diriku ketika beranjak dari dipan tua.

Untuk beberapa menit aku akan tersenyum sendiri menikmati semangat untuk berlari. Menatapi mentari yang merangkak meninggi. Menikmati keinginan untuk berhenti menanti. Merasakan kebebasan yang entah berbentuk apa di dalam hati.

Akan tetapi, beberapa menit kemudian aku mulai kembali lesu dan merasakan gejolak kesetiaan yang tak masuk akal di dalam nadi. Kesekian kali aku menunduk menatap lantai. Menekur jemari tiga puluh tiga kali. Pada pagi yang teduh aku menjura. Penantian ini tak mungkin berhenti, meski entah sampai bila…

Dhuha menapak. Mungkin semangat ku tak ‘kan pernah benar-benar nyata. Mungkin hanya ilusi mata. Mungkin hanya lanjutan mimpi-mimpi. Sesungguhnya bagiku semua ini adalah kesetiaan yang tidak masuk akal.

Dirganeka, Desember ‘07
Penatian dan penantian..