Archive for May, 2008

Harapan di Tangah Malam

Wednesday, May 28th, 2008

Diselimuti embun..
Langkahku meramu udara malam di dalam kalut
Menjelang akhir lelap gulita
Mengharap mentari tak akan pernah kembali

Meniti kesendirian..
Berujar dalam hati, bertahan takkan mungkin selamanya
Bertanya dalam celuk jiwa, sampai kapan batas ketahanan yang mungkin bagiku?

Menukikkan senyum pada tanah malam yang dingin
Hanya sebuah kemungkinan yang tak bernyawa
Mengharap di ujung pekat di depan sana perjalanan terhenti
Kan ku temukan angkasa penuh cahaya

Kaki kembali menyeret langkah
Senyum yang paling mungkin hanya terjadi sesaat
Lalu meresap pada pekat, semakin tidak kasat
Kenyataannya aku masih tertatih sendiri dan berkarat

Semacam ketakutan atau kebimbangan
Hukum mana yang harus ku pegang
Pengembaraan pada rasa yang samar pada ketentuan dariNya
Penghayatan yang bahkan tak punya kekang yang mengikat

Ukh…
Melangkah seperti ini
Bag berpijak pada satu-satunya ranting yang keriput
Membentang di atas jurang terjal tak berdasar
Yang dengan suara yang serak meneriakkan rasa ‘LAPAAAAR….’?

Akh…
Mengambang seperti ini
Bag terapung di tengah samudra tanpa tepi
Tak pernah bisa menggapai cakrawala untuk bergelayut
Tak akan bisa mecengkram awan untuk melindungi diri

Ya Rabb…
Bimbang seperti apa yang tak kasat mata ini
Sepertinya aku berada di tengah angkasa tanpa satu bendapun di sekitarku
Atau di tengah rimba raya tanpa celah cahaya di manapun
Atau di sudut kamar sempit di depan sebuah komputer yang menyala berkedip..?

Aku berada di mana ya Rabb..?

Hening…
Bukan pada hatiku, namun pada malam yang memupuk kebimbangan
Dan hening tak mungkin menjadi obat
Tak sanggup menjadi penghibur

Ya Rabb…
Adalah seonggok aku yang kasat mata ini
Terpenjara di dalam jiwa yang merasa kebiru-biruan karena hina
Mengharap terang yang menyulutkan arah bagi kerdilku
Yang menimpali kegundahanku dengan keyakinan
Yang menimbal keraguanku dengan kekuatan menatap arah dariMU

Ya Rabb…
Berikan aku mimpi yang Engkau benar-benar jadikan mimpi yang pantas
Berikan aku takut yang Engkau benar-benar ijinkan aku untuk takut
Berikan aku harap dan cinta yang Engkau benar-benar ridlo akannya

Ya Rabb..
Bawa langkahku pada terangMu, bukan pada malam yang panjang dan sendiri
Terang meski pekat tanpa lentera
Terang meski melangkah dalam buta
Bawalah aku Ya Rabb…

SENJA KITA

Wednesday, May 21st, 2008

engkau menari-nari
bintik matamu kemuning
melempar kilau pada lengit yg kelam

senja mencari-cari wujud
merapat pada semak dan pepohonan
meniupkan angin berwarna jingga di setiap pucuk yang bernyawa

bawalah pergi mimpi-mimpi hari
simpan dalam peti malam
endapkan hingga jengah

dan biarlah senja kembali mencari-cari wujud
merapat pada semak yang merunduk…

Kesetiaan Yang Tak Masuk Akal (habis)

Wednesday, May 21st, 2008

Pagi

Udara mencuri masuk dari sela jendela, resapkan hangat fajar yang samar di redup warna kulitku. Kemuning semburat ufuk perlahan menguat, mencuri pandang dari balik tirai kusam. Perlahan rinduku menguap bersama embun yang mengangkasa. Ah.., pagi telah mengakhiri mimpi-mimpi, sekali lagi.

Tadi malam adalah malam terakhirku bernyanyi dengan juta mimpi. Senja kemarin adalah senja terakhirku menanti. Pagi ini adalah pagi pertama bagiku melangkah pergi meninggalkan semua rasa setia yang jengah. Begitu yang selalu kukatakan pada diriku ketika beranjak dari dipan tua.

Untuk beberapa menit aku akan tersenyum sendiri menikmati semangat untuk berlari. Menatapi mentari yang merangkak meninggi. Menikmati keinginan untuk berhenti menanti. Merasakan kebebasan yang entah berbentuk apa di dalam hati.

Akan tetapi, beberapa menit kemudian aku mulai kembali lesu dan merasakan gejolak kesetiaan yang tak masuk akal di dalam nadi. Kesekian kali aku menunduk menatap lantai. Menekur jemari tiga puluh tiga kali. Pada pagi yang teduh aku menjura. Penantian ini tak mungkin berhenti, meski entah sampai bila…

Dhuha menapak. Mungkin semangat ku tak ‘kan pernah benar-benar nyata. Mungkin hanya ilusi mata. Mungkin hanya lanjutan mimpi-mimpi. Sesungguhnya bagiku semua ini adalah kesetiaan yang tidak masuk akal.

Dirganeka, Desember ‘07
Penatian dan penantian..

Kesetiaan Yang Tak Masuk Akal (2)

Thursday, May 15th, 2008

Malam

Sunyi mencekam. Tak ada gemericik rinai malam ini. Yang kudengar hanya detak hatiku sendiri. Di angkasa sana yang kulihat hanya biru pekat langit yang terselubung kabut. Kerlip beberapa, hilang beberapa.. bintang-bintang genit itu, menggoda bayi si rembulan.

Langkahku terhenti pada rindu yang tiba-tiba menohok. Kenapa masih saja sunyi sebegini mengingatkanku padanya? Ku edarkan pandang berkeliling. Mencari-cari bayang. Ah.., hanya ada kabut menyaput. Di mana dia..?

Malam merayap. Perlahan kian tinggi, tak perdulikanku terpaku di atas bumi. Dia tak tahukah, tanah di pijakku semakin beku? Dibiarkannya kesendirian menjadi teman berjalan, kebisuan jadi teman bicara, ketakutan menjadi penjaga.. ah.. malam, berhentilah permainkanku.

Kuhela nafas teramat dalam dan panjang. Di benakku berharap semua ini sekedar igauan. Dan ku ‘kan terbangun beberapa saat lagi dari mimpi burukku. Kunanti detik berlalu. Nyalang mataku, menanti igauan berakhir. Tetap saja sunyi.. tak ada yang membangunkanku dari mimpi. Benarkah ini mimpi…?

Ah.., sekali lagi aku harus menerima semua ini sebagai kenyataan yang benar-benar nyata dalam hidupku. Bukan mimpi, bukan igau.. bukan khayal.. Lalu ku langkahkan lagi kaki-kaki menua. Menapaki jalan menuju kelam. Mengunci diri dalam bilik hitam. Sendiri menampung gejolak malam. Mendaki keinginan yang kian sarat. Memacu jantung yang semakin sekarat. Membiarkan diri terkepung hampa.
Aku bertahan.

Pada sebuah penantian terpanjang dalam hidupku. Mungkinkah malam ‘kan berganti kali ini, atau kah mungkin kerlip bintang genit itu yang terakhir bagiku..?

Kesetiaan Yang Tak Masuk Akal (1)

Sunday, May 11th, 2008

Senja

Ketika itu senja baru saja pulang. Keretanya berlalu sejenak lalu di belakangku. Semburat kemuning yang semula melumuri permukaan langit dengan tinta keemasan, kini mulai memudar diseret roda kereta menjauhi cakrawala. Seluruh jagat perlahan membayang samar. Udara mulai merambatkan kebekuan yang menusuk tulang.

Ah.., senja terlalu cepat berlalu, fikirku. Kenapa tidak lebih lama lagi, atau bertahan saja selamanya? Bukankah dia telah lama tahu, bahwa aku ada di sini karena dia? Bukankah senja tahu, aku ada di sini untuk menghabiskan sisa hidupku di tepian waktu, menunggu biduk itu bersamanya, hingga biduk itu benar-benar tiba dan merapat di dermaga ini sebelum malam merangkul alam?
Ah, tetapi senja tampaknya tak pedulikanku. Ia tetap berlalu tanpa berpaling. Menyisakan kelam merayap di sisa-sisa jejak keretanya.
Aku bangkit perlahan dari duduk. Rasa pegal menyerang tulang belakang dan tulang dudukku. Nyeri menusuk-nusuk sendi seakan ingin memisah-misahkan di antara mereka menjadi bagian-bagian kecil.
Ah.., usia memang telah menggerogotiku selama penantian ini. Tidak hanya satu atau dua jam aku menunggu di dermaga ini, tetapi di setiap detik di sepanjang sisa hidupku.
Sepertinya waktu berjalan terlalu cepat. Entah mengejar apa, waktu seakan berlari sekencang-kencangnya dan meninggalkan hari-hari yang sepi tanpa bungkus di depan pintuku.

Dan senja, semestinya ia bertahan lebih lama di sampingku. Karena setiap kali ia pamit untuk pergi meninggalkanku, ketika itulah aku merasakan kesepian yang teramat sangat, dengan cepat dan jelas mulai membayangi sisa hariku dengan kecemasan. Bila cahaya kemuning itu telah sempurna mencelupkan diri di perut cakrawala, yang tersisa hanya pekat yang kelam. Dan aku teramat takut untuk kembali terpejam bersamanya.

Angin menari-nari di permukaan lantai dermaga ketika gaun lusuhku terusik langkah-langkah kakiku. Aroma amis laut dibasuhkannya ke relung keriput wajahku. Ah.., bahkan ia senang bermain-main dengan jilbab kusam penutup uban memanjang di kepalaku! Oh angin, bertahun-tahun aku memohon kepadamu untuk membawakanku kebahagian yang kumau. Tapi engkau selalu saja berjanji dan berjanji. Tak pernah janji itu terbukti. Sekarang kau hanya bisa mengiringi kepergian waktu, merenta perlahan-lahan.

Aku terus melangkah. Jejakku samar-samar membekas di atas pasir. Dermaga itu tak berapa jauh di belakangku. Tapi aku tak ingin berpaling, karena malam telah menutup penantianku hari ini. Setidaknya untuk hari ini.

Senja_di_kuta

(2 B continue..)

bintang senja

Wednesday, May 7th, 2008

bintang senja

sebutlah aku bintang yg tampak ketika senja, berwarna kemerahan seperti pipi fatimah yg tersipu.

aku ingin menari di kemuning langit
bersama riak-riak