Kesetiaan Yang Tak Masuk Akal (habis)

Pagi

Udara mencuri masuk dari sela jendela, resapkan hangat fajar yang samar di redup warna kulitku. Kemuning semburat ufuk perlahan menguat, mencuri pandang dari balik tirai kusam. Perlahan rinduku menguap bersama embun yang mengangkasa. Ah.., pagi telah mengakhiri mimpi-mimpi, sekali lagi.

Tadi malam adalah malam terakhirku bernyanyi dengan juta mimpi. Senja kemarin adalah senja terakhirku menanti. Pagi ini adalah pagi pertama bagiku melangkah pergi meninggalkan semua rasa setia yang jengah. Begitu yang selalu kukatakan pada diriku ketika beranjak dari dipan tua.

Untuk beberapa menit aku akan tersenyum sendiri menikmati semangat untuk berlari. Menatapi mentari yang merangkak meninggi. Menikmati keinginan untuk berhenti menanti. Merasakan kebebasan yang entah berbentuk apa di dalam hati.

Akan tetapi, beberapa menit kemudian aku mulai kembali lesu dan merasakan gejolak kesetiaan yang tak masuk akal di dalam nadi. Kesekian kali aku menunduk menatap lantai. Menekur jemari tiga puluh tiga kali. Pada pagi yang teduh aku menjura. Penantian ini tak mungkin berhenti, meski entah sampai bila…

Dhuha menapak. Mungkin semangat ku tak ‘kan pernah benar-benar nyata. Mungkin hanya ilusi mata. Mungkin hanya lanjutan mimpi-mimpi. Sesungguhnya bagiku semua ini adalah kesetiaan yang tidak masuk akal.

Dirganeka, Desember ‘07
Penatian dan penantian..

Leave a Reply