Kau
Kau bagiku adalah bintang yang paling terang, berkelip di angkasa malamku seakan tak pernah lelah memberi keceriaan di dunia. Ketika engkau tampakkan wajah, kau selalu tersenyum sambil kedipkan mata. Kau menggodaku dengan binar yang tak pernah pudar. Selamanya indah. Tidakkah kau pernah bersedih satu kali saja? Oh, bintang..
Tak pernah lupa setiap malam aku berdoa, agar suatu saat aku bisa menggapaimu, menjadi kabut yang ‘kan berarak menujumu. Tak pernah lelah aku bersujud di gelap malam, mengurai air mataku, berharap suatu saat nanti cahayamu menjemputku di sini. Di penantianku.
Kau, bagiku adalah cinta yang paling mesra. Perasaan yang paling dalam, kerinduan yang tak mungkin padam.
Ah.., khayalanku melambung lagi kepadamu malam ini. Sejuta mimpi mengganggu, ketika kau mulai hadir dalam hidupku. Tidakkah engkau tahu, setiap saat aku selalu merindukanmu?
Kau mungkin tak pernah tahu. Kau mungkin tak ‘kan pernah menyangka sedalam apa perasaan yang kupendam. Aku memang tak pernah berkata. Aku memang tak pernah terbuka. Seharusnya aku meminta maaf pada hatiku yang teramat lelah menyimpan rindu, karena kekeluan lidahku tak mampu mengurai semua dalam kata.
Tapi bukankah memang seharusnya begitu? Menyimpan perasaan hanya dalam dada. Menjauhkan diri dari penyakit hati yang mampu merusak iman kita, meski cinta hampir tak mampu lagi dikekang?
Sejujurnya, aku hampir tak kuat lagi menahan rindu. Ingin rasanya aku pergi mencarimu, membawa jutaan harap yang tertanam semakin dalam di dadaku. Mewujudkan mimpi-mimpi kita. Tapi aku takut semua akan prematur, seperti katamu waktu itu.
“Aku tak ingin menemuimu saat ini, dan juga tak ingin kamu datang, karena aku tak ingin kita berjumpa secara prematur. Karena ketika kita berjumpa, aku harap itu terjadi satu kali saja. Aku tak ingin ada perpisahan lagi setelah itu.” Katamu menjawab permintaanku. Kala itu aku memintamu datang untuk menghalalkan perasaan kita. Setelah itu aku berjanji akan mengijinkanmu kembali ke duniamu untuk menyelesaikan studi yang tersisa lebih dua tahun lagi, dan aku akan tinggal di sini menantimu dengan perasaan cinta yang telah dihalalkan-Nya untuk kita.
Tapi kau tak mau.
“Prematur seperti apa..?” tanyaku.
“Yang aku inginkan, ketika kita bertemu, saat itu semua sudah benar-benar siap. Lahir dan batin kita. Aku tidak ingin semua dipaksakan hanya untuk menghalalkan perasaan kita, sedang kita masih tidak memiliki kemampuan mengatasi permasalahan yang pasti akan timbul.” Jawabmu.
Aku sama sekali tidak paham maksudmu. Bukankah sangat sederhana apa yang kuinginkan darimu? Bukankah sangat wajar ketika aku ingin kau datang dan memperkenalkan dirimu kepadaku, kepada keluargaku, karena selama lebih dua tahun sejak perkenalan kita di dunia maya, aku dan kamu tidak pernah sekali pun bertatap muka. Aku dan kamu hanya bertemu lewat suara, lewat pesan-pesan singkat yang bahkan sangat amat jarang, dan lewat ikatan hati kita. Bukankah sangat amat normal jika kedekatan hati selama dua tahun ini kita halalkan atas nama-Nya, dan berpisah sementara karena-Nya? Bukankah hal ini bisa jadi solusi untuk luapkan cinta yang menggenang di dada kita?
Tapi kau tak mau.
“Aku ingin, ketika kita bertemu, aku sudah siap lahir dan batin. Mental dan materi. Ketika itu aku tidak ingin kita berpisah lagi. Kita akan bersama selamanya.” Ungkapmu.
“Tidak mudah membangun sebuah rumah tangga dari dua jiwa yang berbeda. Tidak mudah untuk menyatukan hati dari dua fikiran yang berbeda. Sekarang, sebaiknya kita sama-sama mempersiapkan diri dulu, hingga saat itu tiba. Sabarlah..” Katamu membujukku.
Tapi, kapankah kesiapanmu itu? Sampai kapankah aku harus menunggu lagi? Dulu kau pernah katakan, tidak akan lama setelah kelulusanku dari universitas, kau akan memintaku kepada orang tuaku. Tapi sekarang, setelah kelulusanku terlewat 1,5 tahun lalu pun, kau tidak juga datang menjemputku. Oh, bintang, mengapa begitu lama kau biarkanku menunggumu?
Sesungguhnya aku sadar, siapa aku dan siapa kamu. Kita adalah dua sosok yang sangat sulit disatukan. Banyak halangan yang menanti kita. Kau adalah laki-laki yang selalu bersikap dewasa, hidup sendiri, berjuang untuk dirimu dan orang lain dengan tenaga yang tak seberapa, sembari menuntut ilmu. Dan aku adalah perempuan manja yang terbiasa dalam kenyamanan. Engkau adalah laki-laki yang terbiasa sengsara, bahkan hingga saat ini, sedang aku adalah perempuan manja yang terbiasa berhadapan dengan kemudahan.
Ketakutanmu, jika menghalalkan perasaan kita, adalah ketidak berdayaan ekonomi. Kau takut aku akan sengsara bila bersamamu. Tapi bukankah Allah Maha Kaya, Allah Maha pemberi solusi atas segala kesulitan hidup di dunia ini. Kenapa kita harus takut dengan kekurangan materi? Bukankah Allah menjanjikan akan mencukupkan rezeki bagi insan yang ikhlas menghalalkan cinta atas nama-Nya? Bukankah aku telah meyakinkanmu, bahwa dirimu jauh lebih penting bagiku dari sejuta materi di dunia ini?
Tapi kau tak mau.
“Kefakiran lebih dekat dengan kekufuran. Dan aku tidak mau kefakiran menjerumuskan kita.” Jawabmu mematahkan argumenku.
“Baiklah..” kataku tak mampu berargumen lagi.
Lalu kuterdiam. Mataku menatap langit malam yang megah bertahta bintang. Ada kamu bercahaya di tengah angkasa itu. Kau bagiku adalah bintang yang terang, dan aku hanyalah rumput di tengah padang. Jarak kita teramat jauh, dibatasi langit yang membentang. Tapi, harapan takkan pernah putus, bahwa suatu hari nanti kita akan mampu menembus jutaan penghalang, dan saling menggenggam tangan.
Apa kamu tahu, kenapa di antara jariku ada ruang? Aku ingin kau tahu, ruang itu tercipta untukmu. Suatu saat nanti kau akan datang mengisi ruang itu, dan menggenggam jemariku.
……………………………………………………………………….
Samuda, 9-12 Februari ‘08
Bintang.. janji itu kusimpan dalam hati..