(Seorang akhwat menuliskan kepadaku ttg perasaannya kpd seseorang…
Ketika itu hati sedang diliputi amarah…)
BEGINILAH DULU AKU MENILAI SIKAPMU…
Akhirnya aku tahu kenapa ketika itu kau tak pernah menghubungi murobbi ku bahkan kau bilang nomor murobbi ku telah kau hilangkan, sesuatu yang agak mustahil bagiku. Kuduga kuat alasannya, karena kau memang tidak pernah berniat serius terhadap perkataanmu. Akhirnya aku tahu kenapa dulu kau menghilang dan meninggalkanku dalam ribu tanya yang menyiksaku. Kuduga kuat alasannya, karena kau memang tidak pernah benar-benar menganggapku ada. Akhirnya aku tahu kenapa kau selalu berkata akan mengikhlaskanku untuk orang lain, sedang di hatiku selalu berbisik aneh dan menangis karenanya. Sekarang aku tahu kenapa hatiku tak bisa menerima, karena dia tahu kau sebenarnya tidak pernah benar-benar menginginkanku.
Bahkan ketika aku memintamu menjemputku, kau menolak dengan berkata, bahwa aku takkan sanggup hidup sepertimu. Kau tidak berfikir bahwa bagiku materi dunia tidak pernah bernilai apa-apa. Kuanggap sebabnya, karena kau memang tidak pernah ingin menjemputku, bukan karena ketakutanmu bahwa kefakiran dekat dengan kekufuran. Dan ketika aku ingin bertemu denganmu meski dengan mengorbankan waktu, biaya dan harga diriku, kaupun menolaknya dengan berkata, bahwa aku hanya diliputi keinginan, bukan kebutuhan. Sekarang aku tahu alasannya, karena kau memang tidak pernah menginginkanku apalagi membutuhkanku.
Sia-sia semua janji yang kau ucapkan. Hampa saja semua harapan yang telah kau tanamkan. Semuanya selaksa debu yang dihembus angin. Lepas ke angkasa dan menghilang. Dan perasaanku kini bagai kapas yang terhempas. Atau bagai ruang tanpa udara, atau bagai padang tanpa hijau, atau seperti tubuh tanpa jiwa…
Aku tahu, kata-kata inipun takkan berarti apa-apa bagimu. Bukankah semua janji dan harapan telah dengan begitu mudahnya terucap dari bibirmu? Semua itu juga akan dengan mudah terhapus dari ingatanmu. Allah Maha Besar. Di balik semua ini akan ada hikmah, aku yakin itu. Di balik semua kena’ifan dan kebodohan akhwat seperti ku yang begitu mempercayaimu, aku tahu akan ada hikmah yang sangat besar sedang menantiku dengan bentangan rahmat-Nya yang teramat luas hingga tak terukur.
Wahai laki-laki yang asing. Betapa aku menyimpan derita cinta begitu dalam kepada wujudmu sekian lama, bahkan meski wujud itu tak pernah sekalipun terpikirkan olehku seperti apa nyatanya, tapi aku tetap mencintaimu dengan hati putih. Di situlah mungkin letak kesalahan terbesarku. Dan sekarang aku telah menjadi ragu dengan hati sendiri. Apakah memang hati sudah tak bisa lagi dipercayai? Apakah memang sepatutnya hati itu kuabaikan saja?
Selama penantianku, yang kupertahankan adalahkhusnudzon-ku kepadamu. Seberat apapun untuk percaya, aku tetap berusaha menganggapmu baik dan mempercayaimu. Aku selalu berfikir, bila memang kau berbohong dan berniat mempermainkanku, maka aku masih memiliki Allah yang akan menunjukkan jalan kebenaran dan Maha Benar hisab-Nya. Semustahil apapun kenyataan yang kamu paparkan, aku selalu berusaha berfikir positif. Berfikiran negatif hanya akan membuatku semakin gila karena takut kehilanganmu.
Sahabatku berkata, itu bukan bentuk ke-khusnudzon-an, tapi cinta buta. Entahlah, sekarang aku rancu sendiri dengan diriku. Benarkah selama ini aku khusnudzon, ataukah aku telah cinta buta kepadamu?
Tidak ada lagi janji yang ingin kusimpan, tidak ada harapan lagi yang ingin kugantungkan. Aku tidak punya sisa keberanian, dan kekuatanku pun sudah surut untuk mengharapkanmu. Aku akan melepaskanmu dengan seluruh kerelaan yang tersisa. Pergilah, jangan kembali. Hatiku biarlah aku dan Allah saja yang tahu.
Terima kasih karena selama lebih TIGA tahun ini kau telah menjadi inspirasi hidupku. Terima kasih karena selama kenal kamu, aku telah banyak sekali berubah menjadi lebih baik. Terima kasih karena tanpa kau sadari kau telah menjadi udztaz yang mendidikku dengan ikhlas. Terima kasih karena telah hadir dan memberikan warna dalam hidupku, menjadi tangis dan tawaku, rindu dan benciku.
Terima kasih karena telah mengisi do’a sujudku, tahajudku, tilawahku, dhuhaku, tidurku, jagaku. Insya Allah kau akan tetap menjadi penghuni hatiku karena aku mencintaimu atas nama Allah.
Terima kasih karena kau tidak pernah sekalipun menyakitiku dengan kata-kata. Hatiku yang luka bukan karena kata-katamu, tapi karena kebodohanku sendiri. Terima kasih karena telah memberiku kesempatan berkenalan dengan keluargamu yang menyenangkan dan selalu melahirkan rindu yang hangat di hatiku. Aku bahkan mencintai adikmu seperti saudariku sendiri. Insya Allah aku akan menjaga silaturahim dengan mereka. Insya Allah hatiku luas untuk mereka tempati.