Kesetiaan Yang Tak Masuk Akal (2)

May 15th, 2008 by a121-za

Malam

Sunyi mencekam. Tak ada gemericik rinai malam ini. Yang kudengar hanya detak hatiku sendiri. Di angkasa sana yang kulihat hanya biru pekat langit yang terselubung kabut. Kerlip beberapa, hilang beberapa.. bintang-bintang genit itu, menggoda bayi si rembulan.

Langkahku terhenti pada rindu yang tiba-tiba menohok. Kenapa masih saja sunyi sebegini mengingatkanku padanya? Ku edarkan pandang berkeliling. Mencari-cari bayang. Ah.., hanya ada kabut menyaput. Di mana dia..?

Malam merayap. Perlahan kian tinggi, tak perdulikanku terpaku di atas bumi. Dia tak tahukah, tanah di pijakku semakin beku? Dibiarkannya kesendirian menjadi teman berjalan, kebisuan jadi teman bicara, ketakutan menjadi penjaga.. ah.. malam, berhentilah permainkanku.

Kuhela nafas teramat dalam dan panjang. Di benakku berharap semua ini sekedar igauan. Dan ku ‘kan terbangun beberapa saat lagi dari mimpi burukku. Kunanti detik berlalu. Nyalang mataku, menanti igauan berakhir. Tetap saja sunyi.. tak ada yang membangunkanku dari mimpi. Benarkah ini mimpi…?

Ah.., sekali lagi aku harus menerima semua ini sebagai kenyataan yang benar-benar nyata dalam hidupku. Bukan mimpi, bukan igau.. bukan khayal.. Lalu ku langkahkan lagi kaki-kaki menua. Menapaki jalan menuju kelam. Mengunci diri dalam bilik hitam. Sendiri menampung gejolak malam. Mendaki keinginan yang kian sarat. Memacu jantung yang semakin sekarat. Membiarkan diri terkepung hampa.
Aku bertahan.

Pada sebuah penantian terpanjang dalam hidupku. Mungkinkah malam ‘kan berganti kali ini, atau kah mungkin kerlip bintang genit itu yang terakhir bagiku..?

Kesetiaan Yang Tak Masuk Akal (1)

May 11th, 2008 by a121-za

Senja

Ketika itu senja baru saja pulang. Keretanya berlalu sejenak lalu di belakangku. Semburat kemuning yang semula melumuri permukaan langit dengan tinta keemasan, kini mulai memudar diseret roda kereta menjauhi cakrawala. Seluruh jagat perlahan membayang samar. Udara mulai merambatkan kebekuan yang menusuk tulang.

Ah.., senja terlalu cepat berlalu, fikirku. Kenapa tidak lebih lama lagi, atau bertahan saja selamanya? Bukankah dia telah lama tahu, bahwa aku ada di sini karena dia? Bukankah senja tahu, aku ada di sini untuk menghabiskan sisa hidupku di tepian waktu, menunggu biduk itu bersamanya, hingga biduk itu benar-benar tiba dan merapat di dermaga ini sebelum malam merangkul alam?
Ah, tetapi senja tampaknya tak pedulikanku. Ia tetap berlalu tanpa berpaling. Menyisakan kelam merayap di sisa-sisa jejak keretanya.
Aku bangkit perlahan dari duduk. Rasa pegal menyerang tulang belakang dan tulang dudukku. Nyeri menusuk-nusuk sendi seakan ingin memisah-misahkan di antara mereka menjadi bagian-bagian kecil.
Ah.., usia memang telah menggerogotiku selama penantian ini. Tidak hanya satu atau dua jam aku menunggu di dermaga ini, tetapi di setiap detik di sepanjang sisa hidupku.
Sepertinya waktu berjalan terlalu cepat. Entah mengejar apa, waktu seakan berlari sekencang-kencangnya dan meninggalkan hari-hari yang sepi tanpa bungkus di depan pintuku.

Dan senja, semestinya ia bertahan lebih lama di sampingku. Karena setiap kali ia pamit untuk pergi meninggalkanku, ketika itulah aku merasakan kesepian yang teramat sangat, dengan cepat dan jelas mulai membayangi sisa hariku dengan kecemasan. Bila cahaya kemuning itu telah sempurna mencelupkan diri di perut cakrawala, yang tersisa hanya pekat yang kelam. Dan aku teramat takut untuk kembali terpejam bersamanya.

Angin menari-nari di permukaan lantai dermaga ketika gaun lusuhku terusik langkah-langkah kakiku. Aroma amis laut dibasuhkannya ke relung keriput wajahku. Ah.., bahkan ia senang bermain-main dengan jilbab kusam penutup uban memanjang di kepalaku! Oh angin, bertahun-tahun aku memohon kepadamu untuk membawakanku kebahagian yang kumau. Tapi engkau selalu saja berjanji dan berjanji. Tak pernah janji itu terbukti. Sekarang kau hanya bisa mengiringi kepergian waktu, merenta perlahan-lahan.

Aku terus melangkah. Jejakku samar-samar membekas di atas pasir. Dermaga itu tak berapa jauh di belakangku. Tapi aku tak ingin berpaling, karena malam telah menutup penantianku hari ini. Setidaknya untuk hari ini.

Senja_di_kuta

(2 B continue..)

bintang senja

May 7th, 2008 by a121-za

bintang senja

sebutlah aku bintang yg tampak ketika senja, berwarna kemerahan seperti pipi fatimah yg tersipu.

aku ingin menari di kemuning langit
bersama riak-riak